Pendidikan di Indonesia adalah sebuah benang ruwet yang centang perentang, kusut masai,serta sebuah mozaik yang tak enak dilihat. Betapa tidak, di satu sisi jaman menuntut peningkatan kualitas dan sekaligus kuantutas, sementara di sisi lain sistem, sarana dan prasarana, serta pola pikir tidak mendukung.
Sistem yang bodoh dan membodohi, misalnya sekolah gratis, adalah sebuah sistem yang akan membuat dunia pendidikan menjadi sebuah panggung parodi. Sudah hukum alam, segala sesuatu yang murah apa lagi gratis pasti kualitasnya jelek. Kecuali jika ada seorang raja memberikan permaisuri tercantiknya kepada rakyatnya. Bos yang hanya kurang dari 60 ribu perbulan, untuk setingkat SMP tentulah hanya seorang emban, bukan permaisuri. Barangkali hanya seorang emban yang cacat.
SDM rendah disebabkan oleh imbalan yang rendah. Dengan gaji tenaga pendidik dan kependidikan yang hanya cukup untuk memenuhi sandang dan pakan, tentulah tidak akan mampu membuat si jenius-jenius berpaling pada profesi pendidik. Akibatnya tenaga pendidik yang tercipta ( baca guru) adalah tenaga-tenaga dengan kemampuan pas-pasan.
Penciptaan kurikulum yang selalu uptade sepertinya tidak dibarengi dengan pemenuhan sarana dan prasara yang memadai. Kurikulum yang mengedepankan proses sangat memerlukan guru yang kreatif dan berskill tingggi. Sebuah kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses tentu membutuhkan sarana, media, skenario yang mampu meminimalkan segala keterbatasan yang ada. Dengan kemampuan guru yang seadanya tanpa ddibarengi dengan pelatihan atau peningkatan kompetensi apapun jenis dan nama kurikulum yang telorkan pemerintah, hanya akan tetap menjadi telor. Tidak akan berubah menjadi anak-anak ayam, yang nantinya akan tumbuh dan seterusnya beranak-pinak.
Pola pikir masyarakat yang menyerahkan segala sesuatunya pada sekolah dengan slogan "gratis dan berkualitas" dan pola pikir pendidik yang menganut falsafah bahwa kualitas pendidikan ditentukan lewat nilai UN yang didapat dengan cara apa saja adalah contoh pola pikir yang akan menjerumuskan pendidikan di Indonesia ke dalam jurang keterpurukan.
Kini sudah saatnya pemerintah, para pendidik dan masyarakat menyadari bahwa nasib sebuah bangsa dan sebuah generasi ditentukan lewat pendidikan. Makin berkualitas sebuah pendidikan, makin tinggi SDM yang dihasilkan.
Sistem yang bodoh dan membodohi, misalnya sekolah gratis, adalah sebuah sistem yang akan membuat dunia pendidikan menjadi sebuah panggung parodi. Sudah hukum alam, segala sesuatu yang murah apa lagi gratis pasti kualitasnya jelek. Kecuali jika ada seorang raja memberikan permaisuri tercantiknya kepada rakyatnya. Bos yang hanya kurang dari 60 ribu perbulan, untuk setingkat SMP tentulah hanya seorang emban, bukan permaisuri. Barangkali hanya seorang emban yang cacat.
SDM rendah disebabkan oleh imbalan yang rendah. Dengan gaji tenaga pendidik dan kependidikan yang hanya cukup untuk memenuhi sandang dan pakan, tentulah tidak akan mampu membuat si jenius-jenius berpaling pada profesi pendidik. Akibatnya tenaga pendidik yang tercipta ( baca guru) adalah tenaga-tenaga dengan kemampuan pas-pasan.
Penciptaan kurikulum yang selalu uptade sepertinya tidak dibarengi dengan pemenuhan sarana dan prasara yang memadai. Kurikulum yang mengedepankan proses sangat memerlukan guru yang kreatif dan berskill tingggi. Sebuah kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses tentu membutuhkan sarana, media, skenario yang mampu meminimalkan segala keterbatasan yang ada. Dengan kemampuan guru yang seadanya tanpa ddibarengi dengan pelatihan atau peningkatan kompetensi apapun jenis dan nama kurikulum yang telorkan pemerintah, hanya akan tetap menjadi telor. Tidak akan berubah menjadi anak-anak ayam, yang nantinya akan tumbuh dan seterusnya beranak-pinak.
Pola pikir masyarakat yang menyerahkan segala sesuatunya pada sekolah dengan slogan "gratis dan berkualitas" dan pola pikir pendidik yang menganut falsafah bahwa kualitas pendidikan ditentukan lewat nilai UN yang didapat dengan cara apa saja adalah contoh pola pikir yang akan menjerumuskan pendidikan di Indonesia ke dalam jurang keterpurukan.
Kini sudah saatnya pemerintah, para pendidik dan masyarakat menyadari bahwa nasib sebuah bangsa dan sebuah generasi ditentukan lewat pendidikan. Makin berkualitas sebuah pendidikan, makin tinggi SDM yang dihasilkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar